BMKG Minangkabau Jelaskan Sejumlah Faktor Penyebab Padang Dilanda Panas Menyengat
PNews | Padang (SUMBAR)--- Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat Sumatera Barat merasakan suhu udara yang lebih panas dan menyengat, terutama pada siang hari.
Menyikapi kondisi tersebut, Kepala BMKG Stasiun Minangkabau, Decky Irmawan, menjelaskan bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh beberapa faktor meteorologis yang sedang terjadi.
Menurut Decky, salah satu penyebab utama meningkatnya suhu udara adalah posisi gerak semu matahari yang saat ini berada dekat dengan garis khatulistiwa.
Kondisi ini menyebabkan intensitas radiasi matahari yang diterima permukaan bumi menjadi lebih tinggi dibandingkan waktu lainnya.
“Gerak semu matahari yang mendekati khatulistiwa meningkatkan intensitas radiasi matahari. Ditambah dengan rendahnya tutupan awan, sehingga radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa banyak penghalang,” ujar Decky Irmawan, sebagaimana dilansir TribunPadang Rabu (21/1/2026).
Ia menambahkan, langit yang relatif cerah tanpa awan turut berkontribusi terhadap meningkatnya paparan radiasi ultraviolet (UV) pada siang hari.
Selain itu, kelembaban udara yang cukup tinggi di wilayah Sumatera Barat membuat panas terasa lebih gerah.
“Walaupun suhu udara tidak ekstrem, kelembaban yang tinggi menyebabkan keringat sulit menguap. Akibatnya, suhu yang dirasakan tubuh atau heat index menjadi lebih tinggi dibandingkan suhu yang terukur oleh termometer,” jelasnya.
Decky juga menyebutkan, intensitas panas matahari yang tinggi turut mempengaruhi suhu permukaan laut.
Sifat air laut yang lambat menyerap dan melepaskan panas menyebabkan energi panas yang tersimpan dilepaskan kembali pada malam hari, sehingga udara di sekitarnya tetap terasa hangat dan lembab.
Menghadapi kondisi cuaca panas tersebut, BMKG Minangkabau mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam beraktivitas.
Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari dan meminimalkan paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama.
“Jika harus beraktivitas di luar ruangan, gunakan pakaian pelindung seperti lengan panjang, topi, serta tabir surya, dan pastikan kebutuhan cairan tubuh terpenuhi untuk mencegah dehidrasi,” imbaunya.
Selain itu, BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar, karena kondisi angin dapat mempercepat penyebaran api ke permukiman maupun kawasan hutan.
Meski demikian, Decky menegaskan bahwa suhu panas yang terjadi saat ini masih tergolong fenomena cuaca harian yang lazim di Indonesia dan bukan gelombang panas ekstrem seperti yang terjadi di sejumlah negara lain.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan selalu merujuk pada informasi resmi BMKG melalui aplikasi InfoBMKG atau media sosial resmi BMKG Minangkabau,” pungkasnya.
#Ril








Tidak ada komentar