Breaking News

Tikus Meneror di Sentra Beras Solok Super Premium, Petani Pasrah meski Jatuh Miskin

PNews | Solok (SUMBAR)--- Teror hama tikus menghantam sentra Beras Solok super premium di lereng Gunung Talang. Selama berbulan-bulan, ribuan tikus menyerbu persawahan di Nagari Talang dan Nagari Jawi-Jawi, meluluhlantakkan tanaman padi hingga menyebabkan gagal panen massal, (Minggu, 18/1/2026). Di tengah kehancuran sawah, petani hanya bisa pasrah, meski perlahan jatuh ke jurang kemiskinan.

Sawah yang sebelumnya hijau dan siap panen kini berubah menjadi hamparan batang padi rusak dan lumpur. Bulir padi habis digerogoti, sementara sisa tanaman rebah tak bernilai. Ribuan petani kehilangan sumber penghasilan utama, setelah biaya tanam yang besar tidak berbuah hasil.

Serangan tikus ini bukan kejadian sesaat. Petani menyebut, hama tersebut telah mengganas sejak beberapa bulan terakhir dan terus berkembang tanpa kendali. Setiap malam, gerombolan tikus keluar dari sarang dan menyerang sawah secara masif.

Berbagai upaya telah dilakukan petani untuk bertahan. Mulai dari berburu tikus, gotong royong menebar racun, hingga membakar lubang-lubang persembunyian tikus di pematang sawah. Namun semua langkah itu tidak membuahkan hasil. Populasi tikus justru kian bertambah, seolah tak pernah habis.

“Kami sudah berjuang semampunya. Racun, perangkap, bakar sarang, semua sudah dicoba. Tapi tikusnya makin banyak. Kami tidak sanggup lagi,” ujar Yus (52), petani di Nagari Talang.

Kepasrahan pun mulai tumbuh di tengah penderitaan. Banyak petani memaknai serangan ini bukan sekadar hama, melainkan sebuah bala atau hukuman alam yang datang tanpa mampu mereka hindari.

“Selama puluhan tahun bertani, baru kali ini sawah habis total. Modal tidak kembali, utang menumpuk. Kalau dibilang hama biasa, rasanya tidak masuk akal lagi,” ungkap Roni (47), petani asal Nagari Jawi-Jawi.

Ironi terasa kian dalam. Beras Solok dikenal luas sebagai beras berkualitas tinggi dengan harga premium, namun petani sebagai produsen utama justru menanggung dampak paling pahit. Tingginya biaya produksi tidak sebanding dengan hasil yang nihil.

“Kami ini penghasil beras terbaik, tapi hidup kami justru makin sulit. Kalau kondisi seperti ini terus terjadi, banyak petani bisa berhenti turun ke sawah,” tegas Edi (39).

Teror tikus yang tak kunjung teratasi kini bukan hanya mengancam hasil panen, tetapi juga keberlanjutan sentra Beras Solok dan kehidupan ribuan petani yang menggantungkan hidupnya dari lumpur sawah di lereng Gunung Talan.

#Rinal 

Tidak ada komentar

"BOFET HARAPAN PERI"


Selamat datang... Semoga Anda Puas, Silahkan Share