Cahaya Ramadhan di Paninggahan, Wabup Solok H. Candra Mengingatkan: Saat Setan Terbelenggu, Hati Manusia Jangan Dibiarkan Lepas
PNews | Solok (SUMBAR)--- Malam itu, Surau Gadang Jorong Parumahan, Nagari Paninggahan, terasa lebih hening dari biasanya. Udara Ramadhan yang sejuk menyelimuti jamaah yang duduk bersila, menunggu lantunan kata-kata nasihat yang akan mengetuk relung hati. Di hadapan mereka, Wakil Bupati Solok, H. Candra, berdiri bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai sesama hamba yang mengajak merenung.
Safari Ramadhan khusus Pemerintah Kabupaten Solok yang digelar Sabtu malam (28/2/2026) itu menjadi ruang perjumpaan antara pemimpin dan masyarakat dalam suasana keimanan. Dalam tausiahnya, H. Candra mengutip satu pesan Al-Qur’an yang kerap terdengar, namun jarang benar-benar direnungkan: bahwa di bulan Ramadhan, setan-setan dibelenggu oleh Allah SWT.
Namun, ia berhenti sejenak. Suaranya merendah, lalu menguat.
“Jika setan sudah dibelenggu, tetapi penyakit masyarakat masih marak, maka kita patut bertanya pada diri sendiri,” ucapnya perlahan. “Apakah hati manusia yang mulai dibiarkan lepas, hingga perilakunya lebih buruk dari godaan setan?”
Kalimat itu menggantung di udara surau, menyusup ke kesadaran jamaah. Bagi H. Candra, Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum membersihkan jiwa dan menjaga marwah diri sebagai manusia beriman.
Dengan nada tegas namun bernuansa nasihat, ia menegaskan sikapnya: pemerintah tidak akan memfasilitasi atau membela mereka yang terjerat penyakit masyarakat seperti perjudian, narkoba, minuman keras, hingga perilaku menyimpang yang merusak tatanan sosial.
“Ambo tidak akan membantu urusan penyakit masyarakat yang sudah ditangani penegak hukum,” katanya jujur. “Karena kasih sayang sejati bukan membiarkan kesalahan, tapi mengingatkan agar tidak terjatuh lebih dalam.”
Lebih jauh, ia mengajak seluruh nagari di Kabupaten Solok untuk kembali memperkuat benteng moral. Ia mengenang masa ketika nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah hidup dalam keseharian masyarakat. Saat itu, nagari bukan hanya wilayah administratif, tetapi rumah besar tempat semua saling menjaga dan saling mengingatkan.
“Dari nagari-nagari yang kuat itulah dulu lahir pemuda Minangkabau yang menjadi tonggak bangsa,” ujarnya. “Jika hari ini kita ingin menyelamatkan generasi penerus, maka peraturan nagari harus lahir dari nilai iman, adat, dan kepedulian bersama.”
Tausiah malam itu terasa seperti jawaban tanpa amarah. Sebuah penegasan yang lahir dari keyakinan, bukan pembelaan diri. Di bawah cahaya Ramadhan Paninggahan, pesan itu sederhana namun dalam: ketika setan telah dibelenggu, manusia dituntut untuk lebih kuat menjaga hati.
Safari Ramadhan itu pun ditutup dengan doa bersama. Di surau tua yang menjadi saksi perjalanan nagari, harapan kembali dipanjatkan agar Ramadhan tidak hanya berlalu, tetapi meninggalkan jejak perubahan dalam jiwa dan kehidupan sosial masyarakat.
#Rinal








Tidak ada komentar