Breaking News

Alarm Dini Karhutla Menyala, BPBD Solok Ungkap Strategi Hadapi Ancaman Kemarau 2026


PNews | Kota Solok (SUMBAR)--- Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai memasuki fase kewaspadaan seiring mendekatnya musim kemarau 2026. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan, peningkatan titik panas (hotspot) kerap terjadi di wilayah Sumatera Barat saat curah hujan menurun dan aktivitas pembukaan lahan meningkat.

Kondisi tersebut menjadi latar digelarnya Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat di Hotel Premiere Syariah Kota Solok, Selasa (10/02/2026). Rakor melibatkan TNI, Polri, BMKG, BPBD Provinsi dan Kabupaten/Kota, Satpol PP Damkar, serta aparatur nagari se-Kabupaten Solok.

Dalam forum tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Solok, Khairul, S.Sos., menekankan pentingnya peringatan dini dan kesiapsiagaan berjenjang untuk mencegah Karhutla sebelum meluas.

“Karhutla selalu diawali tanda-tanda awal, mulai dari hotspot hingga kemarau berkepanjangan. Karena itu, penetapan status siaga dan tanggap darurat harus dilakukan secara terukur dan tepat waktu,” ujar Khairul.

Ia mengungkapkan, berdasarkan evaluasi penanganan Karhutla pada tahun-tahun sebelumnya, sebagian besar kejadian kebakaran dipicu pembakaran lahan dan keterlambatan respons di tahap awal. Kondisi ini mendorong Pemkab Solok memperkuat sistem deteksi dini dan respons cepat di tingkat nagari dan kecamatan.

BPBD Kabupaten Solok, lanjut Khairul, menerapkan mekanisme penetapan status siaga darurat saat indikator ancaman mulai meningkat. Status tanggap darurat diberlakukan jika terjadi lonjakan titik api dan kondisi cuaca ekstrem, kemudian diturunkan kembali menjadi siaga darurat agar kewaspadaan tetap terjaga.

Upaya pencegahan diperkuat melalui patroli terpadu lintas sektor, pembukaan kanal laporan cepat bagi masyarakat, serta penguatan peran aparatur nagari sebagai ujung tombak pengawasan di lapangan. Masyarakat didorong segera melapor jika menemukan titik api atau aktivitas pembakaran lahan.

Dari sisi historis, wilayah Kabupaten Solok tercatat sebagai salah satu daerah yang memiliki kawasan rawan Karhutla, terutama di area perbukitan dan lahan terbuka. Medan yang sulit dan keterbatasan akses menjadi tantangan tersendiri saat proses pemadaman dilakukan.

Menghadapi kondisi tersebut, Pemkab Solok menyiapkan armada dan peralatan pemadam, patroli intensif di titik rawan, serta tim reaksi cepat. Namun, keterbatasan jumlah armada dan luas wilayah menjadi catatan yang terus diupayakan solusinya melalui koordinasi lintas instansi.

Sebagai langkah antisipasi tambahan, Pemkab Solok bekerja sama dengan BMKG dan BNPB dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Upaya ini ditujukan untuk mengurangi tingkat kekeringan melalui hujan buatan di sejumlah wilayah rawan Karhutla.

Rapat koordinasi ini menjadi penanda bahwa ancaman Karhutla bukan sekadar isu musiman, melainkan persoalan berulang yang menuntut kesiapan sejak dini. Sinergi antara pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama untuk mencegah Karhutla agar tidak kembali menjadi bencana tahunan di Sumatera Barat.

#Rinal 

Tidak ada komentar

"BOFET HARAPAN PERI"


Selamat datang... Semoga Anda Puas, Silahkan Share