Breaking News

Menghargai Perjuangan dengan Cara yang Sadis

"Menghargai Perjuangan dengan Cara yang Sadis"

Oleh:
Sastri Bakry
Baru-baru ini, kita menyaksikan aksi heroik seorang Ojek Online yang berjuang mengantarkan makanan untuk para pejuang demokrasi dan keadilan. Di tengah kerumunan massa, ia berlari ingin menyampaikan pesanannya. Uang yang didapatnya tak sebanyak uang sehari perjalanan dinas anggota DPRRI. Namun, yang membuat kita terheran-heran adalah cara aparat menghargai perjuangan tersebut. Ya, Anda tidak salah baca! Aparat dengan sengaja melindas Ojek Online tersebut, tanpa niat berhenti sedikit pun. 

Ia seolah-olah ingin menunjukkan bahwa ia pahlawan sesungguhnya di hadapan pimpinannya. Sementara perjuangan mereka yang berada di lapisan bawah tidak dihargai.

Kemarin pun kita masih menyaksikan aparat dengan mobil sedannya dengan gagah berani melindas rakyatnya. Kita bersyukur aparat yang bertugas masih mau mundur, jika tidak maka korban akan semakin bertambah banyak. 

Belum lagi Solo, Yogya dan daerah lain mulai bergerak. Apakah akan semakin banyak korban?  

Pertanyaannya, di mana hati nurani aparat saat itu? Apakah mereka lupa bahwa Ojek Online dan para Pemuda tersebut juga manusia yang memiliki perasaan dan hak untuk hidup? Atau apakah mereka berpikir bahwa pengemudi Ojek Online tersebut hanya sebuah mesin yang bisa diganti dengan mudah? Barangkali mereka berpikir di era Artificial Intelligence ini segalanya mudah diduplikasi dengan maaf? . 

Kita semua tahu bahwa pengemudi Ojek Online telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari kita. Mereka berjuang untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat, termasuk kepada pejuang demokrasi dan keadilan yang menuntut anggota DPRRI sedikit berempati dengan penderitaan rakyat. Kita juga tahu meskipun dengan gaji yang minim dan risiko yang tinggi, mereka tetap bergerak hanya untuk kesejahteraan keluarganya. 

Sekedar makan dan kebutuhan sekolah anak- anaknya. Ia berada di tengah pendemo, lalu karena salah tempat, sebagai balasannya, mereka mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dari aparat.

Namun, yang lebih ironis adalah bahwa aparat yang seharusnya melindungi dan melayani masyarakat, malah menjadi pelaku kekerasan terhadap pengemudi Ojek Online. Apakah ini yang disebut sebagai "melindungi dan melayani"? Jargon indah ini kadang sangat menyakitkan. Sementara anggota DPR RI berjoget dan berpesta pora kemewahan. 

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apa yang salah dengan sistem ini? Mengapa aparat bisa berlaku seperti ini terhadap pengemudi Ojek Online dan para pendemo? Dan apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah hal seperti ini tidak terjadi lagi di masa depan? Korban di kedua belah pihak? Pembalasan saling berbalas?

Sampai saat ini, kita hanya bisa berharap bahwa hati aparat termasuk anggota DPR akan kembali berfungsi dengan normal, dan mereka akan mengingat bahwa Ojek Online dan para pendemo juga manusia yang berhak untuk hidup dengan aman dan sejahtera sebagai mana mereka.

Sampai kapan pun pejuang keadilan, kesejahteraan dan demokrasi akan tetap ada di tengah-tengah kita untuk melawan kezaliman. Para pejuang demokrasi dan keadilan tetaplah solid menyuarakan kebenaran. 

Kita bersyukur mahasiswa, anak muda dan masyarakat masih bisa bersuara. Teruslah bersatu dan berjuang untuk kebenaran. Bukankah suara rakyat suara Tuhan? Maka dengarkanlah. 

Hentikanlah tindakan represif terhadap rakyat, lindungi mereka ketika menyampaikan aspirasi nya. Jangan lukai dan bahkan membunuh para demostran. Presiden Prabowo harus mengambil sikap tegas. Pecat Kapolri dan Kapolda yang sudah banyak sekali membiarkan ketidak adilan, baik hukum maupun perlakuan penanganan hukum di Indonesia. Sudah cukup korban berlumuran darah terkapar di jalanan. Semoga hati kita masih berfungsi.

#Sastri Bakry

Tidak ada komentar

"BOFET HARAPAN PERI"


Selamat datang... Semoga Anda Puas, Silahkan Share