Breaking News

WARTAWAN JUGA GURU

 WARTAWAN JUGA GURU

Oleh: Yurnaldi Paduka Raja (Wartawan Senior)



Saya anak guru dan sekaligus TNI (Veteran RI). Masuk IKIP Padang, karena ingin jadi guru (kimia). Alhamdulillah masuk IKIP tanpa tes (PMDK). Saat praktik mengajar di SMA Labor IKIP Padang, hampir mengajarkan semua mata pelajaran. Jika ada guru yang tak datang, saya siap mengajar apapun. Mau IPS, IPA, Bahasa, bahkan kesenian. Anehnya, anak anak pada suka. Bahkan, siswa berlagak preman - yang sering bikin guru lain naik darah, di hadapan saya dia bagai kucing dibawakan lidi. 

Saya pakai ilmu pedagogi. Ternyata mereka butuh perhatian khusus. Diberi kesempatan tanggung jawab, mereka. Mau dan patuh. Karena masa masa kenakalan remaja, perlu trik khusus hadapi mereka yang sedikit bandel.

Di kelas, entah kenapa, anak anak sering panggil "Bapak Pelawak". Saya mengajar dengan gaya santai dan sedikit melawak, memang, biar mereka tak tidur. Apalagi saya ditaruh di jam2 bikin ngantuk. Semua lancar dan metoda yang dipakai pas.

Tamat kuliah saya ingin jadi guru yang lebih luas. Tak hanya berhadapan dengan siswa di dalam kelas, tapi mencerdaskan dalam arti luas untuk masyarakat. Pilihan dan tekad saya adalah jadi wartawan. Ya, wartawan.

Pernah rektor mendatangi langsung saya seusai wisuda. Beliau mengatakan, "Nal, kalau ingin jadi pegawai, langsung saya terima". Jadi pegawai sesuatu yg sangat diharapkan banyak sarjana ketika itu. Tapi saya masih mikir. Karena honor saya menulis di banyak media, dua kali gaji lektor/profesor, ketika itu (tahun 1980-an). Sedangkan gaji sarjana S1, Rp150 ribu (satu dollar AS Rp1.700), setara dengan dua tulisan saya di media nasional. 

Sejak awal kuliah hingga tamat saya rutin menulis opini di media. Kebanggan bagi institusi karena saya menuliskan identitas sebagai mahasiswa IKIP Padang. Sejak awal saya juga aktif di koran kampus dan membantu Humas IKIP Padang. Kepala Humas IKIP Padang Drs Hafni (alm) sempat berkata. "Nal, kamu bagus bekerja di Kompas. Saya baca tulisan dan laporanmu, bagus sekali dan layak Kompas." Dan memang, target saya adalah Kompas.

Tawaran Rektor saat itu belum saya jawab. Saya mencoba menunggu peluang Kompas. Saya kirim lamaran saya dengan bahasa menantang. TIDAK gaya konvensional seperti bahasa surat lamaran yg berlaku sampai sekarang: "saya yg bertanda tangan di bawah ini dan seterusnya". 

Surat lamaran saya sangat beda. Yakin bisa menginspirasi sarjana yang sekarang belum bekerja. Hehehe.

Bedanya lagi, surat lamaran dilampiri sekira 100 halaman kliping tulisan dan berita di banyak media (semasa mahasiswa menulis pada 50 media). Lalu dua buku yg beredar nasional, yang saya tulis ketika masih mahasiswa. Buku jurnalistik pula. Cara saya melamar mungkin belum pernah ada sebelumnya.

Dan jawaban dari surat lamaran itu pun tiba. Saya diberi kesempatan mengikuti tes. tesnya di Kompas Biro Sumbagut di Medan.

Sebuah peluang yang tak mungkin dilewatkan. Dipanggil tes sudah pertanda saya ada nilai lebih dari ribuan pelamar. Membuat saya percaya diri. Tesnya bertahap. Mulai tes pengetahuan umum, psikotes, wawancara, dan kesehatan dan kemudian praktik jurnalistik. Tiga wartawan senior yang mentes saya waktu itu adalah Rum Haryono (alm), Syamin Pardede (alm), dan Max Margono, serta Bos PSDM Kompas, mas Dedi.

Akhirnya saya dinyatakan lolos. UJIAN Belum berakhir. Ada tahapan ujian dg status: koresponden lepas, koresponden tetap, dan baru organik (sekira 4-5 tahun). Tugas pun pindah pindah antar provinsi dan juga diperbantukan ke Jakarta.

Begitulah. Wartawan adalah guru juga, tugasnya mencerdaskan masyarakat pembaca, menginspirasi pembaca, dan memberikan sesuatu yang bermakna melalui tulisan/laporan.

Sampai sekarang, sejak 34 tahun lalu, saya selalu dan sering berbagi ilmu di forum2 seminar, diskusi, pelatihan jurnalistik di tanah air, sembari menulis buku- buku  jurnalistik yang menjadi referensi wartawan, dosen, guru, mahasiswa, dan lain- lain.

Pokoknya senanglah jadi guru wartawan dan calon wartawan. Walau pernah jadi korban kekerasan aparat, nyaris dibunuh, diancam dibunuh, dan disandera belasan tentara GAM bersenjatakan AK-47, namun juga pernah dijamu Panglima GAM Ishak Daud (alm). Usai itu dicari Panglima Komando Operasi TNI. Gelagat kurang elok, saya kabur meninggalkan medan tugas di Aceh. Semua itu tak membuat surut menjalani profesi wartawan.Tetap bangga jadi  wartawan dan guru (calon) wartawan.

Sukanya tentu banyak. Tak terbayangkan bisa bertugas di hampir seluruh daerah dari nol kilometer di Sabang hingga pedalaman Papua. Dan sejumlah negara di Asia, Eropa, Australia, dan Afrika. 

Selamat Hari Guru!
Semoga Pengabdian kita jadi ladang amal. (*)

Tidak ada komentar

"BOFET HARAPAN PERI"


Selamat datang... Semoga Anda Puas, Silahkan Share